Mengenang 77 Tahun Kibar Sang Saka Merah Putih

Sejarah Republik Indonesia sesungguhnya jauh lebih panjang jika sekadar dihitung dari Proklamasi, 17 Agustus 1945. Pasalnya, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia dikumandangkan di Jakarta, tercatat pada 30 April 1933, Sang Saka Merah Putih telah berkibar di ujung utara Nusantara.

Aksi menggegerkan Hindia Belanda ini dilakukan atas inspirasi seorang tokoh masyarakat Talaud, Sulawesi Utara, E.P Gagola, pensiunan guru Gubememen di Gorontalo dan pemimpin utama pergerakan organisasi kesenian dan olahraga, Persatuan Angkatan Muda Indonesia Lining (PAMIL).

Kabupaten Kepulauan Talaud secara geografis berada di kawasan perbatasan dan gardu terdepan dengan pulau-pulau terluar di utara Indonesia mempunyai nilai strategis yang selalu diperhitungkan mulai dari kerajaan Majapahit-dengan menyebut Payung Utara Uda Makat Raya-bagi bangsa Portugis, Spanyol, Belanda bahkan Amerika.

Posisinya yang berada di tepi Nusantara membuatnya menjadi gerbang perlintasan berbagai peristiwa bersenjata a.l. pemberontakan PRRI/ Permesta, pemberontakan RMS, hingga menjadi lintasan para teroris dari dan ke negara tetangga maupun bagi kejahatan trans nasional narkotika.

Aksi Gagola terhitung sangat berani karena dilakukan di tengah tekanan pemerintahan kolonial Belanda saat itu. Lewat aksi ini Gagola menanamkan semangat persatuan menuju Indonesia merdeka melalui pembinaan dan pergerakan politiknya kepada pemuda dan pemuka masyarakat.

Pergerakan ini mencapai puncaknya ketika pada 30 April 1933, dengan dalih menyukseskan perayaan hari ulang tahun Putri Juliana, anak Ratu Belanda, Merah Putih berhasil dikibarkan di tanah Urung, Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.

Aksi pengibaran Merah Putih adalah puncak panasnya pergerakan memerdekakan diri dari kolonialisme Belanda di wilayah Talaud dalam dua periode perang yaitu perang Makatara pada 1797 dan perang Arangkaa 1889-1893.

Pengibaran yang dilakukan E.P. Gagola berserta kedua rekannya H.L. Tucunan dan C.A.S. Tama-wiwi ditangkap oleh para penjajah dan menderita dalam penjara di Sukamiskin, Bandung.

Peristiwa ini adalah sebagai respons atas semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sekaligus menjadi momen semangat perjuangan dan kebangsaan bagi masyarakat Kepulauan Talaud terhadap Republik Indonesia.

Ironisnya, tidak banyak pihak yang mencatat peristiwa pengibaran Merah Putih di Talaudtersebut. Tidak heran jika kemudian Aksi Peduli Talaud melalui Panitia Peringatan ke-77 Peristiwa Merah Putih Talaud memilih menggelar Upacara Ziarah dan Tabur Bunga di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Perjuangan dari Talaud

Menurut Ketua Panitia Peringatan ke-77 Peristiwa Merah Putih Talaud Nusa Magenda, aksi tabur bunga dilakukan untuk mengenang pejuang putra-putra Talaud yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata ini a.l Mayjen TNI E.J. Magenda, Kol. TNI Gagola, John Lampah dan juga perintis kemerdekaan C.A.S. Tamawiwy.

Selain itu panitia juga mencatat sejumlah pejuang Merah Putih dari Talaud yang dikebumikan di Menteng Pulo a.l. J.A. Sumendap, EP. Gagola, Tucunan bersaudara, HM. Panahal, Pasiak, Soleman Direno, Wua, W. Riung, H. Sadehang, P. Lacando, E. Parapaga, A. Tinihada, L. Tumade, dan S. Karundeng.

“Penyelenggaraan upacara ini juga diharapkan melestarikan ni-lai-nilai perjuangan masyarakat Talaud peristiwa 30 April 1933 sebagai perwujudan dan hasil . perjuangan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 serta pelestarian semangat proklamasi 17 Agusus 1945 bagi generasi muda,” ujar Nusa, baru-baru ini.

Kegiatan peringatan ke-77 Peristiwa Merah Putih Talaud dilaksanakan dengan upacara ziarah yang dipimpin oleh Brigjen Pol. Benny Jozua Marnoto sebagai inspektur upacara dilanjutkan dengan acara tabur bunga di pusara Mayjen. TNI AD. E.J. Magenda dan Kolonel TNI AD. Edy Gagola.

Acara tersebut dihadiri oleh pemuka masyarakat Talaud yang ada di Jakarta dan keluarga para pejuang di antaranya keluarga Magenda, keluarga Gagola serta keluarga Tamawiwy dan didukung oleh Kodam Jaya-Komando Garnisun Ibukota.

Upacara tabur bunga di Makam Pahlawan Kalibata sekaligus menjadi puncak peringatan Peristiwa Merah Putih Talaud setelah pada Mei lalu digelar pemecahan rangkaian manusia serta bendera merah putih mengelilingi Pulau Mia-ngas. i

Ajang pengibaran Sang Saka sepanjang 6.500 meter membekap pulau seluas 3,1*5 kilometer persegi tersebut melibatkan ratusan pelajar yang didominasi siswa-siswa SMA dan SMK pengibar bendera merah putih (paskibra) yang dipimpin Kombes Pol Mabes Polri Benny Jozua Marnoto.

Sudah menjadi rahasia umum, Miangas yang hanya berjarak 18 jam perjalanan laut dari Minda-nau, Filipina adalah tumpuan pertahanan negara yang tak terurus. Tidak heran jika kemudian muncul sejumlah ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat.

 

Sumber : http://bataviase.co.id/node/464715

Oleh : Kontributor Bisnis Indonesia


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s