Kematian

Hari ini banyak dari rekan-rekan saya memberitahu kepada saya mengenai telah berpulangnya seorang hamba Tuhan yang luar biasa dalam pelayanannya.  Secara pribadi saya tidak mengenal sama sekali tentang beliau, saya hanya mendengar khotbah-khotbah beliau lewat Youtube maupun sharing-sharing dari teman-teman pelayanan saya..
Yang cukup bikin saya terus mencoba mencari informasi tentang kepastian meninggalnya beliau adalah adanya berita yang muncul bersamaan dimana ada yang konfirmasi bahwa beliau telah meninggal pada malam hari kemarin, tapi dilain berita ada yang mengkonfirmasi bahwa beliau masih koma, dan para jemaat sedang berdoa untuk kesembuhan nya, berdoa untuk kembalinya beliau ke dalam kehidupan..
Dari semua ucapan di media sosial yang saya baca, ada yang menarik perhatian saya untuk menjadikan hal ini sebagai bahan sharing saya.. orang tersebut berkomentar kurang lebih seperti ini, “kok berdoa supaya orang meninggal bangkit? Apakah itu seperti memberhalakan beliau?”

Berdoa supaya orang meninggal bangkit?? Boleh ga sih dalam kekristenan??
Sederhana nya,,  itu adalah bentuk dari belas kasih dan cinta orang yang ditinggal kepada yang meninggal. Wajar kok, nama nya tinggal (meninggal) oleh orang yang dikasihi. Apalagi jika orang yang terkasih itu meninggal sangat mendadak.
Saya sering menghadiri ibadah tutup peti atau ibadah penghiburan, rata-rata orang yang saya jumpai, terutama orang yang punya hubungan langsung dengan yang meninggal biasa nya yang akan lebih “emosional”.
Belum lama ini, saya menghadiri dan berdoa pada ibadah kematian seorang anak perempuan dari pasangan suami istri. Ketika saya hadir, sang ibu sangat histeris, dia sering mengulang kalimat seperti,, “Tuhan bangkitin anak ku Tuhan,, gantiin sama aku saja Tuhan..” — dengan lain kata, si ibu memohon kepada Sang Pencipta untuk membangkitkan si anak dan menukar nafas hidupnya dengan anaknya..
Jadi wajarkah orang berdoa untuk kebangkitan? Wajar! Itu bentuk kasih dan cinta.
Tapi mengenai terjadi atau tidaknya mujizat kebangkitan, itu adalah hak preogratifnya Tuhan sebagai Sang Pemilik Nafas.
Saya pun pernah mendengar kesaksian dimana seorang telah mati, lalu Tuhan bangkitkan dia lagi. Semua terserah Tuhan dan hanya demi kemuliaan namaNya.

Haleluya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s