My Real Life Story..

9 Juli 2003,

Dia menjamah saya, memberi damai dan mengubah hidup saya..

 **************************************************************

Saya tumbuh dalam keluarga Kristen dari kecil. Mama saya rajin membawa saya ke sekolah minggu bahkan dari Kelas BaTiTa (Bawah Tiga Tahun), berlanjut sampai Kelas BaLiTa (Bawah Lima Tahun), Sekolah Minggu, Kelas Kecil, Kelas Tanggung sampai Kelas Besar. Tapi saya tidak pernah kenal Tuhan secara sungguh-sungguh. Saya tidak pernah kenal Tuhan dengan baik.

Hal ini membuat saya terasa sangat kosong dan karena kondisi ini, saya jatuh ke dunia Okultisme (ramal-meramal bahkan sampai Santet). Memang tidak secara terang-terangan saya merubah status menjadi pengikut setan, tapi saya pakai jasa-jasanya setan untuk memuaskan segala amarah & kekosongan hati saya. Pada saat itu saya pikir hal ini ‘keren’.

Rasanya, saat itu adalah saat-saat paling munafik dalam menjalani kehidupan. Karena di luar saya terlihat baik namun di dalam hidup saya penuh dengan dendam, komplain, sungut-sungut, amarah, kepahitan, pemberontakan, dsb.

Tapi apakah saya ke gereja tiap minggu? Ya.. saya tetap beribadah minggu. Yaaa saya ke gereja karena saya seorang beragama Kristen. Saya berdoa kepada Yesus karena gereja mengajarkan saya seperti itu.

Datang ke gereja, mendengarkan khotbah pendeta kadang malah membuat saya makin tambah marah karena rasanya khotbah pendeta menyinggung perasaan saya dan seolah membuat saya merasa bersalah. Hal ini terus terjadi sampai saya kelas 3 SMA, hidup saya makin kosong & saya makin tidak tau harus kemana lagi mencari kelegaan. Saya larut dalam dunia ramal meramal & santet. Dunia okultisme memberikan warna & kesenangan lain bagi saya untuk mengisi kekosongan hati. Orang sering dateng ke saya untuk minta diramal, atau minta “menembus” orang lain untuk diramal. Asik juga rasanya ketika gw bisa berkuasa atas sesuatu.

9 Juli 2003 –  Tuhan izinkan sesuatu terjadi pada saya.

Sekitar pukul 5 pagi. Saya ngalamin pendarahan hebat. Darah segar mengalir dari hidung saya. Lama-lama saya tidak bisa bernafas. Dan rasa mual yang sangat amat sangat saya rasakan. Setiap kali saya (maaf) muntah, keluar darah yang sangat banyak bahkan berupa gumpalan-gumpalan darah. Saya langsung dibawa ke ruang Gawat Darurat suatu Rumah Sakit besar di Jakarta. Hasil akhir bilang, 5 kelenjar pembuluh darah saya yg terluka. 3 diantaranya sudah pecah (ini yang mengakibatkan pendarahan tsb) & 2 lagi sudah membengkak. Tujuh jam saya ada di ruang Gawat Darurat. Saya masuk IGD sekitar jam 6 pagi dan sadar-sadar kira-kira jam 1 siang.

Ketika saya mulai sadar setelah “hilang” beberapa jam, saya mulai dapat melihat sekeliling dan saya menyadari kondisi saya dengan segala selang masuk ke dalam tubuh saya, baik selang infus, selang oksigen maupun selang yang mengeluarkan darah pada saat terjadi pendarahan. Entah kenapa, pada saat itu saya merasa yang tadinya “berkuasa”, tapi saat itu hanya untuk sekedar bernafas lega saja, saya butuh selang oksigen. Saya jadi merasa bahwa ternyata saya cuma setitik debu yang kapan saja bisa di tiup Tuhan. Yang tadinya saya bisa bebas atas kesenangan-kesenangan emosional saya, tapi hari itu saya terbaring tidak berdaya dengan perasaan hati yang shock, terpukul, sedih semua bercampur aduk. Saya sempat merasa karena kesombongan dan kekotoran hidup saya, wajar-wajar saja kalau Tuhan cabut nyawa saya waktu itu.

Hari itu, malam nya, saya masuk ke ruang inap. Tidak lama, ada beberapa ibu-ibu masuk ke ruangan saya, entah mereka dari mana. Mereka mendoakan saya, tumpang tangan atas kepala saya dan berdoa untuk saya. Saya tidak secara persis inget kalimat-kalimat doanya, karena sepertinya kesadaran saya belum kembali 100%, tapi ada kejadian yang saya ingat sampai hari ini adalah setelah mereka selesai doakan saya, mereka pergi dari pandangan saya, tiba-tiba saya merasa sangat mengantuk dan akhirnya saya tertidur. Dalam tidur saya, saya dibawa ke suatu ruangan, agak gelap, tiba-tiba ada tangan yang menekan pundak saya sehingga saya tertuduk. Dihadapan saya ada banyak TV kecil. Yaa seperti ruang control CCTV.

Di dalam ruangan gelap itu, dan hanya terang dari beberapa TV yang menyala di depan saya. Lalu, saya memandang TV-TV di ruangan itu. Ternyata yang ada di TV tersebut adalah tingkah laku saya yang kemarin-kemarin saya buat. Seperti sedang menonton cuplikan-cuplikan singkat suatu film dan semuanya itu adalah bagian-bagian yang pernah saya banggakan dalam hidup. Ada perasaan sangat malu setelah menonton itu, lalu saya memalingkan pandangan saya. Saya rasanya tidak sanggup berkata apa-apa untuk memberikan alasan mengapa saya melakukan itu semua atau bahkan hanya sekedar menjawab dan bertanggung jawab atas setiap perbuatan saya itu. Saya tidak sanggup untuk melajutkan melihat TV-TV itu.

Ketika memalingkan muka saya, ada Sosok yang hadir dibelakang saya, saya tidak bisa lihat Dia namun dari hadiratnya, saya tau itu adalah Tuhan. Tanpa bisa berkata banyak, saya langsung bilang.. “Tuhan…. kasih saya kesempatan lagi. Saya tau, saya ga bakal bisa bayar pengampunan Tuhan, tapi setidaknya kasi waktu untuk saya nyenengin hati Tuhan.” Selesai bicara itu, saya kembali kepada kesadaran saya. Saya terbangun dari tidur saya dan saya sadar bahwa saya kembali ada di rumah sakit.

Beberapa waktu di Rumah Sakit, dokter bilang kondisi saya terus membaik. Dokter yang menangani saya dari awal saya masuk IGD sempat bingung mengingat kondisi saya waktu pertama masuk sangat drop karena kehilangan banyak darah. Mujizat-mujizat aktif langsung terjadi saat itu juga. Yang seharusnya saya transfusi darah akibat pendarahaan yang hebat paginya, tiba-tiba dibatalkan karena kondisi darah dalam tubuh saya tiba-tiba naik dan terus naik. Semakin hari semakin sehat. Saya sempat dirawat dalam rumah sakit itu selama 10 hari.

Dan hari ini, ketika saya nulis ini.. ber-tahun-tahun telah berlalu, Saya masih ada & sehat karena saya berada dalam pengampunan Tuhan yang ajaib. Dia melupakan apapun yang pernah saya lakukan. Semua dosa busuk saya sudah dilempari jauh ke dalam tubir laut. Dia memperbaharui hidup saya, hari demi hari. Dia proses saya. Dia remukkan saya. Dia juga yang memulihkan.

Dan dengan bangga saya bisa bilang, saya tidak akan tukar dengan apapun posisi Tuhan Yesus dalam hidup saya. He is my everything..

Kejadian saya sakit di tahun itu, benar-benar mengubah pandangan saya tentang Tuhan maupun pandangan saya tentang kehidupan. Kesehatan dan pemulihan yang Dia berikan adalah anugrah yang ajaib bagi gw. Bukan hanya secara fisik saya disembuhkan total sama Dia.. tapi hubungan saya dengan Tuhan juga dipulihkan.

 **************************************************************

Ada beberapa hal yang dapat saya bagikan dari apa yang saya alami;

  1. Kekristenan hanya sekedar agama jika kita tidak bergaul dekat dengan Tuhan.
  2. Agama tidak membuat kita otomatis dekat dengan Tuhan, tapi ketika kita menghidupi sebuah aturan yang disebut dengan agama itu, hal itu akan membantu kita dekat dengan Tuhan.
  3. Perjumpaan pribadi dengan Yesus pasti mengubah kehidupan seseorang.
  4. Yesus adalah Tuhan yang bergerak dengan rancangan keselamatan jiwa.
  5. Kesabaran Tuhan atas tingkah laku kita sungguh adalah keselamatan bagi kita.
  6. Jika Tuhan izinkan sesuatu terjadi dalam hidup kita, percayalah, ada sesuatu yg juga sudah Dia siapkan bagi kita.

 

 **************************************************************

SINCE I MET THIS BLESSED SAVIOUR
SINCE HE CLEANSED AND MADE ME WHOLE
I WILL NEVER CEASE TO PRAISE HIM
I’LL SHOUT IT WHILE ETERNITY ROLLS

HE TOUCHED ME, O HE TOUCHED ME
AND O THE JOY THAT FLOODS MY SOUL
SOMETHING HAPPENED AND NOW I KNOW
HE TOUCHED ME AND MADE ME WHOLE

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s